![]() |
| LATIF SAFRUDDIN OWNER ONLINE DAPUR BAROKAH&RESTO KANGLATIF |
Dari Dapur Kecil Menuju Dapur Barokah: Perjalanan Kemandirian Latif Safruddin
Bagi sebagian besar anak-anak, waktu bermain adalah segalanya. Namun, bagi seorang Latif Safruddin, masa kecilnya dihabiskan dengan cara yang berbeda dan jauh lebih bermakna. Di saat teman-sebaya mungkin menunggu hidangan siap di atas meja, Latif kecil sudah mengakrabi kepulan asap dan aroma bumbu di dapur.
Filosofi keluarga yang diterapkan oleh orang tuanya sangatlah unik dan mendidik: "Jika ingin makan, maka harus masak sendiri." Sang Ibu tidak menyajikan makanan instan atau hidangan jadi, melainkan menyediakan bahan-bahan mentah sebagai media bagi anak-anaknya untuk belajar bertahan hidup dan mandiri.
Menempa Keahlian di Balik Tungku
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Latif sudah mulai "beradu" dengan kuali dan sodet. Didampingi oleh kakak-kakak perempuannya, ia belajar memahami bagaimana rasa diciptakan. Apa yang awalnya merupakan sebuah keharusan untuk mengenyangkan perut, perlahan bertransformasi menjadi sebuah hobi dan gairah (passion) yang mendalam.
Dapur bukan lagi sekadar tempat memasak, melainkan laboratorium kreativitas tempat ia mengasah ketajaman lidah dan keterampilan tangannya. Setiap tetes keringat di depan kompor menjadi investasi bagi masa depan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Buah dari Konsistensi: Dapoer Barokah
Kemandirian yang ditanamkan sejak kecil itu tidak menguap begitu saja dimakan waktu. Semangat itu terus terbawa hingga ia dewasa, hingga akhirnya melahirkan sebuah buah pemikiran nyata yang diberi nama Dapoer Barokah.
Berawal dari usaha berbasis online di Sleman, Yogyakarta, Latif membuktikan bahwa keahlian yang dipupuk selama puluhan tahun mampu menjadi peluang ekonomi yang memberkati banyak orang. Nama "Barokah" bukan sekadar label, melainkan doa dan harapan bahwa makanan yang ia olah dengan tangan sendiri dapat membawa keberkahan, persis seperti pelajaran berharga yang ia dapatkan di dapur rumahnya dulu.
Pesan Inspirasi
Kisah Latif Safruddin mengajarkan kita bahwa:
Kemandirian adalah Warisan Terbaik: Didikan orang tua yang keras namun mendidik akan membentuk karakter yang tangguh.
Proses Tidak Mengkhianati Hasil: Keahlian yang dimulai sejak SD adalah hasil dari jam terbang panjang, bukan sukses semalam.
Hobi yang Terarah: Sesuatu yang kita cintai jika ditekuni dengan serius akan menjadi jalan pembuka rezeki.
Kini, setiap kali Latif mengenakan seragam koki dan tersenyum bangga di balik nama Dapoer Barokah, ia tidak hanya menyajikan makanan. Ia sedang menyajikan sebuah perjalanan hidup tentang kerja keras, cinta pada kuliner, dan kekuatan sebuah kemandirian.
