NASIBOX AYAM GORENG

NASIBOX AYAM GORENG

Di atas meja berwarna terang itu, sebuah kotak makan hitam tampak sederhana—namun justru di sanalah cerita kecil tentang keseharian bersemayam. Tutupnya telah terbuka, memperlihatkan susunan yang rapi dan jujur, seolah setiap sekat tahu perannya masing-masing. Nasi putih mengepul pelan, butirannya pulen dan bersih, dihiasi taburan ringan bawang goreng yang menguar aroma hangat—aroma yang selalu berhasil memanggil kenangan rumah, siang hari, dan jeda sejenak dari hiruk-pikuk.

Di sisi lain, mie goreng berwarna keemasan berkelindan dengan irisan cabai merah dan hijau. Teksturnya kenyal, tampil sederhana namun menggoda, seperti percakapan singkat yang tak perlu banyak kata untuk terasa akrab. Ada sambal di sudutnya—merah dan hijau berpadu—menawarkan janji rasa pedas yang jujur, bukan sekadar menggigit lidah, tapi membangunkan semangat.

Di tengah perhatian, sepotong ayam goreng keemasan berbaring tenang. Kulitnya renyah, warnanya mengundang, seakan menyimpan cerita panjang tentang bumbu yang meresap dan api yang sabar. Ayam itu bukan sekadar lauk; ia adalah puncak dari kesederhanaan yang dirawat dengan sungguh-sungguh. Setiap gigitan kelak akan membawa bunyi kecil yang memuaskan—kriuk—sebuah tanda bahwa kelezatan sering kali lahir dari hal-hal yang tidak rumit.

Sendok plastik putih terletak di samping, sederhana dan siap menjalankan tugasnya. Ia tak meminta perhatian, namun kehadirannya melengkapi segalanya. Begitu pula tisu dan garpu di sisi meja—detail kecil yang sering terlewat, tetapi tanpanya pengalaman makan tak pernah benar-benar utuh.

Kotak makan ini mungkin tak berasal dari restoran mewah, tak pula dihiasi nama besar. Namun di sinilah letak pesonanya. Ia mewakili makan siang di sela pekerjaan, bekal yang dibeli terburu-buru namun dinikmati sepenuh hati, atau hadiah kecil untuk diri sendiri setelah pagi yang panjang. Ia adalah pengingat bahwa kebahagiaan kerap hadir dalam bentuk yang paling sederhana—nasi hangat, lauk yang jujur, dan waktu singkat untuk berhenti.

Ketika tutupnya nanti ditutup kembali, cerita ini mungkin selesai. Namun rasa kenyang yang tertinggal, hangat yang menyebar di dada, dan senyum kecil yang muncul tanpa disadari—itulah epilog yang sesungguhnya. Sebab terkadang, satu kotak makan cukup untuk menceritakan hari yang penuh, tanpa perlu kata-kata yang berlebihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar